Pengalaman KEREN!

Hi guys.. Gak terasa nih, saya udah lama sekali nggak mengupdate blog tersayang... Selain lagi mencoba beradaptasi dengan kehidupan mahasiswa farmasi, saya juga emang agak malas mengupdate. Haha..

Nah, belakangan ini Kantor Berita ITB sedang menjalankan proyek besarnya yaitu Program Magang Online News Reporter 2010. Dengan berbagai kapasitas dan keterbatasan SDM yang ada di KB, alhasil semua personil tim turut serta terjun untuk melakukan penyeleksian para peserta program magang. Nah, truly speaking, mengurus berbagai hal tentang penyeleksian ini INCREDIBLE..! Banyak hal baru yang saya pelajari, tentunya juga mengasah minat saya. Love it so much!

TAHAP SELEKSI HARI PERTAMA
Seluruh calon peserta magang yang telah mendaftar dan mengirimkan CV (totalnya ada 25 orang) mengikuti seleksi Tes Tertulis dan juga Tes Diskusi. Nah, kebetulan saya ditunjuk menjadi PJ untuk Tes Tertulis. Gw ditugaskan untuk membuat draf soal, mencetak soal-soal, memeriksa jawaban soal, hingga membuat rekap data hasil nilai akhir.

Sialnya, pas di hari H - 1 sebelum pelaksanaan tes, soal jadi yang akan digunakan untuk seleksi belum lengkap, padahal jam sudah menunjukkan pukul 20.00! Tahu kan apa jadinya kalau tukang fotokopi pada tutup, terus tes harus berlangsung keesokan harinya jam 08.00?
Di tengah situasi serba panik, saya sendiri bekerja mandiri untuk menyelesaikan soal-soal yang belum terkumpulkan dari teman-teman yang lain. Untunglah, berbekal pengetahuan ala kadarnya, saya berhasil menyusun dan mengcompile soal-soal dengan baik sekitar jam 09.30.

TAHAP SELEKSI HARI KEDUA
Tes di hari kedua: WAWANCARA. Saya disini bertindak sebagai pewawancara, jadi saya mewawancarai para peserta yang mengajukan CV. Agak aneh ya, disaat communication skill saya masih terbatas, saya malah disuruh mewawancarai orang. Haha.
Ada 7 orang yang saya wawancara. Ada yang cenderung biasa-biasa saja, ada juga yang suka gugup dan kurang sopan. Tapi, ada juga yang sopan dan berkualitas. Senang rasanya bisa mengenal karakter-karakter orang. Seru juga menyaksikan kumpulan orang-orang yang gugup saat diwawancara (dasar...)

Alhasil, selesailah dua hari penyeleksian calon peserta magang KB 2010. Dua hari ini benar-benar memberikan pengalaman dan inspirasi berharga. Senang rasanya bisa berkontribusi lebih untuk KB, penyalur bakat dan minatku..

Untuk para peserta, mudah-mudahan diterima ya. Kalau memang diterima, selamat berkarya lebih lanjut dalam tulisan-tulisan yang menunjukkan ekselensi ITB. Dan bagi yang nggak, jangan kecewa:) Saya percaya banyak hal yang kalian dapatkan dengan mengikuti seleksi ini.

KETERANGAN: Mulai post yang ini, saya akan menggunakan "saya", bukan lagi "gw". Demi formalitas aja kok:)

20.12 @kos

MEDITATION for a better life

Belakangan ini saya sedang tekun berlatih meditasi. Saya mencoba melakukan meditasi setiap hari malam hari setelah mandi, walaupun memang tidak lama, cuma sekitar 10 menit. Memang bukan baru sekarang saya belajar meditasi. Sejak intensif belajar agama, saya sudah menjadi meditator, tapi meditator yang sangat amatiran. Haha..

Jadi, berdasarkan literatur yang saya baca. Meditasi memiliki manfaat yang luar biasa baik dan bermanfaat.
PERTAMA, meditasi menghilangkan stress dan beban-beban berat.
KEDUA, meditasi menjawab berbagai solusi dan permasalahan yang ada di hidup.
KETIGA, meditasi membuat hidup semakin sehat dan tidak mudah stress.
KEEMPAT, meditasi membuat pikiran tetap tenang dan fokus.
KELIMA, meditasi membuat pikiran terkontrol, dan banyak pencerahan yang akan didapat.
KEENAM, meditasi membuat hidup jauh lebih indah dan berwarna.

Bagaimana cara melakukan meditasi?
Sebelumnya harap digarisbawahi bahwa meditasi BUKAN milik golongan ataupun agama tertentu. Walaupun memang meditasi merupakan praktek Buddhisme, tetapi meditasi tidak hanya untuk Buddhis.
Meditasi sendiri dibagi beberapa jenis. Namun yang termudah mungkin adalah meditasi napas.

1. Duduk dengan rileks, boleh diatas kursi maupun duduk bersila. Buat posisi tubuh serileks mungkin tanpa ada otot yang tegang. Tubuh tegak (tidak membungkuk).
2. Mulailah pejamkan mata dengan santai. Jangan memejamkan mata terlalu berlebihan, tujuannya adalah agar cahaya yang masuk ke mata tidak membuat pusing.
3. Mulai fokus pada napas yang keluar-masuk di hidung. Setiap kali napas masuk dan keluar, pastikan anda menyadarinya. Namun, napas yang keluar-masuk ini diusahakan wajar (bukan akibat dipaksa atau ditarik lebih dalam). Kalau perlu, hitung tarikan dan hembusan napas agar semakin fokus.
4. Ingat, prinsip meditasi adalah "melepas", melepas segala beban dan pikiran duniawi. Fokuslah dan buat diri semakin nyaman dan damai.
5. Meditasi dapat anda lakukan sekitar 10-15 menit, atau lebih jika perlu.

Melatih meditasi memang membutuhkan latihan yang cukup baik, dan banyak yang butuh pembimbing selama latihan. Dengan terus berlatih meditasi, diri kita akan merasakan berbagai manfaat positif darinya. Yang terpenting adalah hidup kita semakin tenang dan damai, tidak lagi terbebani oleh beban dan pikiran-pikiran yang mengganggu.

Nah, selamat berlatih meditasi! hehehe..

Hampir 2 Bulan

I know it's not a true happiness...
but i'm happy to remember them...
they built me, they encouraged me, they skilled me...
they have improved me until today...

Sudah cukup lama gw ngga update blog gw. Alasan utamanya mungkin sibuk ngerjain kerjaan yang tak kunjung beres, dan tentu saja: jalan-jalan.

Yes, it has been almost 2 months since i left bandung...

Selama berada di kota kelahiran gw, tentu banyak memori lama yang kembali bangkit dan menghiasi hidup gw. Gw mulai mengenal kembali kebiasaan-kebiasaan yang gw lakuin sebelum meninggalkan kampung halaman.
Beberapa hari lagi mungkin menjadi momen-momen akhir dimana gw bisa merasakan sebuah nostalgia setahun dulu disini. Mungkin inilah saat-saat terakhir di tahun ini gw bisa bercanda dan berkeluh kesah bersama keluarga, dan akan memakan waktu yang masih lama untuk merasakan itu kembali. Mungkin saat-saat ini jugalah gw bisa mengenang kembali cerita-cerita gila di zaman SMP dan SMA bersama teman-teman terbaik gw. Inilah momen-momen terakhir dimana gw akan sangat jarang merasakan itu kembali. Sekarang gw telah memiliki dua kehidupan yang sebenarnya menyatu, tetapi mempunyai dua cabang.

Kembali ke beberapa saat yang lalu..

27 JULI 2010 gw kumpul sama teman-teman terbaik gw di medan (Andy, Fidel Chandra, Nicolas Xavier Ongko, Seini intanalia, dan beberapa lainnya). Seperti biasa, dimana lagi tempat kumpul orang medan selain di SUN Plaza. Rangkaian acara ngumpul berlangsung cukup seru. Standar lah, ada makan-makan @pizzahut, jalan keliling mall, karaokean @amazone, gaming @amazone, dll. Hmmm.. masing-masing dari kami memang bukan lagi anak SMA. Kami sudah melewati sebuah masa dimana kami harus bertransisi menjadi seseorang yang mengerti tentang hidup bermasyarakat. Kami sudah memiliki jalan hidup sendiri-sendiri. Kami memang tidak berasal dari satu perguruan tinggi yang sama. Andy dan Nicolas di USU, Seini di UGM, Fidel di NTU-SG, n gw di ITB.

Memang tidak akan mudah bagi kita untuk mengulang kembali momen-momen berharga bisa bertemu dan memiliki cerita-cerita indah dan manis selama ini. Walaupun persahabatan tak akan abadi, tapi gw sangat berharap agar kami semua mampu menyimpan lembaran cerita yang telah kami tulis sendiri di dalam hati. Lembaran-lembaran ini akan mengingatkan kami kembali tentang arti dari kebersamaan, arti dari perjuangan, dan arti kehidupan.

Hmmm.. Keep contact ya, my beloved friends.. Keep our sweet memory in your hearts..


23 JULI 2010 gw kumpul sama teman-teman VIVACE XII-Aks 2008/2009 di Sun. Ga semuanya bisa datang. Ada Yulius Putra (Yupu), Christin Hartono (Atin), Felicia Oei (Feli), Richard Fernando (Achard), Ira Tadika (Ira), Cantika Puteri Utama (CPU), dan gw sendiri. Senang rasanya bisa mengenang kembali sosok-sosok yang masing-masing punya identitasnya sendiri.

+ YUPU (Teknik Industri UI '09): Sang master satu ini paling blak-blakan kalau bicara, walaupun hal yang dibicarakannya kadang sangat logis dan realistis. Gw rasa semua dekat dengannya, karena dia mampu mendekatkan.

+ ATIN (Fakultas Kedokteran Gigi USU '09): Cewe yang paling unik kalo ketawa, paling khas suaranya, dan paling mudah dikenali. Sosok yang sangat bersahabat, sangat sayang pada sahabat:)

+ FELI (Fakultas Kedokteran USU '09): Cewe yang paling "arogan" kalo bicara (sori Feli^^). Gaya ketawanya paling lucu, dan pasti ketawa sampai habis suaranya. Cewe yang satu ini emang penjelajah sejati. Vietnam juga uda pernah dijelajahinya.

+ ACHARD (Teknik Material/ Metalurgi UI '09): Cowo perpaduan yang sangat fresh, sangat adaptif, dan pastinya kaya (tapi kadang pelit). Ayo chard, sukses di UI!

+ IRA (Fakultas Kedokteran USU '09): Cewe yang pas SMA duduk pas di belakang gw, anaknya pemilik "Sinar Terang" (sory kalo salah^^). Gaya bicaranya paling "nusuk", haha..

+ CPU (Matematika UPH '09): Inilah cewe yang paling mahir dalam berperilaku (elegan maksudnya). Duduk pas di depan gw pas SMA. Paling suka diganggu, bener ga sih? haha.

Senang rasanya bisa mengenang kembali beberapa personil VIVACE, teman-teman seperjuangan ku dulu ketika "disiksa" di kelas akselerasi. Gw senang bisa mengenal mereka. Mereka punya identitas yang unik, yang mampu menyatukan kami.

Nampaknya agak OOT nih bisa cerita hingga masalah ini. Pokoknya, inti dari post gw yang satu ini adalah: Gw senang bisa kumpul bersama orang-orang terpenting dalam hidup gw. Terima kasih atas warna-warni yang menghiasi timeline panjang hidup gw. Walaupun bentar lagi berangkat, tetap senang bisa kumpul sejenak bersama kalian.

~Pukul 21.10 WIB @ my living room






Bertemu Teman Lama


@THAMRIN PLAZA, Medan - 28 Juni 2010

Setelah sekian lama gw berada di kota Bandung ngelanjutin semester 2 ini, tiba juga saatnya gw bisa brtemu 2 orang temen lama gw semasa SMP dan SMA, tiada lain si Andy (Teknik Industri USU '10) dan Seini (Sastra Korea UGM '09).

Dua sosok sahabat baik gw ini gak banyak berubah, masih sama seperti dulu. Andy dengan keluguan namun bersahabat, dan Seini dengan kecerewetan nan cerdasnya.
Seini baru pulang dari Jogja 2 hari sebelumnya, tepatnya pada Sabtu (26/06/10), sedangkan selama gw sampai di Medan, gw dah pernah ketemu Andy di Medan Mall sekali. Walaupun begitu, pertemuan gw dengan mereka pada hari tersebut benar2 membawa kesan tersendiri, sebuah nostalgia impresif.

PUKUL 12.00: janjian kumpul di lantai dasar Thamrin Plaza, tapi emang ga disangka hujan bisa datang kapan saja. Gw telat, dan baru bisa berangkat pukul 12.30 nunggu hujan berenti

PUKUL 13.00: akhirnya sampai di TP, langsung disambut Seini yang hampir ga
berubah mukanya:) lalu disambut juga ama Andy .... Then, sambil ngobrol2 singkat kita jalan ke Fountain Cafe (cafe yang eskrimnya paling top deh).

PUKUL 13.10: mulai deh kita pesan makanan, sambil ngobrol tentunya. Kita ngobrolin kisah selama di kota masing-masing, ngobrolin medan juga tentunya, ngobrolin si seini yang dah mulai ngontrak di jogja, ke kampus naik sepeda. Ngomongin cerita si andy juga yang dari rumahnya ke USU naik becak 15 ribu. hahaha.. really an unforgettable moment.......


PUKUL 14.30: Abis makan agak bingung mau ngelanjutin kemana, mau nonton juga males. Akhirnya kita memilih main di Timezone, masing2 ngeluarin uang sebesar Rp 10 ribu^^ Asik, ngehilangin stress sambil bicara masa lalu


PUKUL 16.00: Pengennya karaoke, tapi bener-bener gersang di TP yang ga ada tempat karaokenya. Terakhir kita putuskan buat pulang, dan ngerencanain buat kumpul2 lagi sesi ke2 yang akan dilanjutkan seminggu berikutnya. Kali ini kita disubsidi buat makan di SG alias Seoul Garden, ama andy yang baru keterima di USU lewat UMB. Biasanya Rp80k kalo makan disana, tapi kita cukup bayar setengahnya Rp40k karna bakal disubsidi ama andy... haha


Berakhirlah sesi ketemuan kita pada hari tersebut. Walaupun emang sangat singkat, gw senang bisa ketemu teman-teman lama gw sejak SMP. Mereka berdua yang menemani gw selama berada di SMP sejak VII-2, hingga XII-Aks, bahkan hingga sekarang. Sampai gw kuliah di Bandung (dan sudah 1 tahun) untungnya gw selalu in contact with them, dan mudah-mudahan persahabatan ini akan terus berlangsung hingga gw mencapai pembebasan ^^


Sekian dulu buat post kali ini.

3rd July 2010 (13.40 WIB) @ living room

"Sahabat sejati adalah sahabat yang mendampingi kita disaat dihujani kebahagiaan maupun ketika disandung derita...... Mereka memperlakukan diri kita bagai dirinya sendiri..."

Dalai Lama XIV Sosok Bahagia Penuh Kedamaian

















Jam rumah menunjukkan pukul 20.10 WIB ketika itu. Setelah pulang dari toko dan mandi, udah terbesit di pikiran gw buat duduk santai di ruang tamu, nonton tv sambil nyalain ebuddy n opera mini. Apalagi kalo gak buka fb, email, itb.ac.id, n bla bla bla. Tentunya sambil chatting.. haha..

Maka dengan santai dan pikiran tanpa beban duduklah gw di sofa ruang tamu. Gw mulai nyalain ebuddy n opera mini, tidak lupa nyalain tv. Ada yang berbeda kali ini, gak tahu ada karma baik apa yang gw lakuin. Gw tengah menyaksikan acara di metro TV: Face to Face. Spesialnya, Face to Face kali ini menampilkan seorang sosok luar biasa menurut gw. Tiada lain adalah Yang Mulia Dalai Lama XIV, yang sedang berada di India guna menghindari invasi China di negara pimpinan Beliau sendiri, Tibet.

Begitu tahu ada hal yang menarik dan luar biasa menurut gw, lantas gw panggil tuh di david_chentanaman yang tengah online di YM.
"Chen, buka metro TV..." Gw panggil 2 kali, kok ga ada jawaban. Ngerasa kalau acara ini penting banget buat dia, gw panggil lagi deh, kali ini dengan cara nge-buzz. Tapi, gak berbeda jauh, tetap ga ada jawaban.

Di tengah mencoba menginformasikan si chen tentang acara ini, perhatian gw seakan dipecahkan dalam dua kepentingan. Gw pengen banget nonton wawancara dengan Dalai Lama untuk pertama kalinya. Di sisi lain, gw juga menyadari kalau chen bakal sangat membutuhkan acara-acara seperti ini. Di tengah kalut, akhirnya.... "Bentar, gw nyalain tv," balas si chen.

Ya udah, ga ada lagi yang bikin gw risih. Lantas, gw bisa nonton acara itu dengan santai dan fokus tentunya.

Di tayangan tersebut, diceritakanlah ada sebuah wilayah di India yang bernama Dharamsala (kalau ga salah ingat). Pemerintah India memberikan akses kepada masyarakat Tibet yang sedang diinvasi China untuk membangun daerahnya sendiri, di Dharamsala itu. Masyarakat Tibet yang mengungsi tinggal dan membangun kehidupan disana. Segala bentuk kebudayaan dan tradisi, termasuk kehidupan spiritual tumbuh di daerah tersebut. Ciri kehidupan Buddhisme terlihat erat disana, tentunya dengan bentuk tradisi Tibetannya.

Di sanalah seorang tokoh dunia, penginspirasi tokoh-tokoh besar, yang sangat dihormati seluruh masyarakat dunia tinggal. Tidak lain adalah YM Dalai Lama XIV. Beliaulah seorang sosok yang sangat menghargai perbedaan, seorang tokoh yang mencintai kedamaian. Sejak dilancarkannya invasi Cina ke Tibet, Beliau memilih jalan kedamaian untuk penyelesainnya, perang bukan jawaban. Beliau menjadi seorang pengungsi di wilayah India, yaitu Dharamsala.

Bertempat di istana sederhana, Beliau hidup dengan sosoknya yang penuh canda dan tawa. "Kehangatan diri saya disalurkan dalam bentuk senyum dan tawa," ujarnya pada tayangan itu. Beliau juga mengaku bahwa Beliau hidup bahagia. Hidup dalam kedamaian merupakan sebuah kebahagiaan baginya.

Yang paling gw salut dari Beliau, walaupun Beliau merupakan seorang Buddhis yang sarat dengan nilai-nilai Buddhisme, ada satu pernyataan beliau yang luar biasa:
"Kita semua sama, kitalah milyaran manusia yang hidup di bumi ini. Perbedaan ras, agama, dan etnis tidak lantas menjadikan kita berbeda..."

Singkatnya, Beliau adalah seseorang yang sangat menjunjung tinggi perbedaan. Beliau tidak pernah mendogma bahwa agamanya yang terbaik, dan agama lain salah. Beliau bahkan pernah bertemu dengan pemimpin dunia agama lain, dengan tetap menjunjung tinggi perbedaan keyakinan diantara mereka.

Satu hal lagi. Beliau memberikan satu pesan untuk masyarakat Indonesia. Menurutnya, walaupun Indonesia didominasi pemeluk Muslim, tetapi Indonesia begitu variatif dengan adanya pemeluk agama lain. Untuk itu, menurut beliau, Indonesia punya kesempatan untuk menghargai sesama dan hidup berdampingan. Hidup damai adalah kuncinya.

Tayangan yang berdurasi sekitar 1 jam ini begitu menginspirasi buat gw. Gw menjadi lebih memahami perbedaan, dan bagaimana kita selayaknya bersikap dengan pemeluk agama lain. Itu penting, mengingat banyak kenalan-kenalan gw yang berbeda agama dengan gw. Justru Dalai Lama XIV kembali mengingatkan gw dengan nilai Buddhisme murni, untuk mencintai kedamaian dan menghargai perbedaan.

Hai sahabat-sahabatku, perbedaan tidak membuat kita berbeda. Kita daun dari satu pohon. Kita ombak dari satu laut. Kita bintang dari satu langit.

Mari berpuas hati dan berdamai dengan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.... Love You Forever, all creatures around us...

~11 pm in living room....

Buddhism for All

Albert Einstein: "Agama masa depan adalah agama kosmik, melampaui Tuhan sebagai pribadi serta menghindari dogma dan teologi. Mencakup baik alamiah maupun spiritual, agama tersebut seharusnya didasarkan pada rasa keagamaan yang timbul dari pengalaman akan segala sesuatu yang alamiah dan spiritual, berupa kesatuan yang penuh arti. Ajaran Buddha menjawab gambaran ini. Jika ada agama yang akan memenuhi kebutuhan ilmiah modern, itu adalah ajaran Buddha..."

Terbawa dogma dan kepercayaan pribadi, masih sedikit pihak yang percaya bahwa Buddhisme bukan milik golongan atau agama tertentu. Buddhisme bukanlah milik pemeluk agama Buddha, ataupun milik identitas tertentu. Tetapi: Buddhisme adalah sebuah ajaran bagi semua makhluk, bahkan tidak hanya manusia, tetapi sekali lagi, untuk semua makhluk.

Pada zaman dulu ketika Buddha lahir di dunia, beliau membawa sebuah misi besar bagi dunia yaitu menyelamatkan semua makhluk. Berkat cinta kasih dan kebijaksanaan yang dimilikinya, selama 35 tahun beliau berjuang bagi semuanya, tidak hanya untuk diri sendiri. Berkat perjuangannya itu, Buddha sama sekali tidak memberikan dogma ataupun perintah sedikitpun bagi pihak yang percaya padanya. Malahan, beliau memberikan satu konsep istimewa: konsep Ehipassiko (datang dan lihat). Artinya, Buddha sama sekali tidak menyatakan ajarannya paling benar! Buddha sama sekali tidak mendogma pengikutnya! Buddha tidak mengklaim ajarannya sebagai ajaran eksklusif, melainkan milik semua makhluk!

Prinsip Ehipassiko menyatakan bahwa ajaran yang dibabarkan Buddha BUKAN UNTUK DITERIMA MENTAH-MENTAH, melainkan untuk diselidiki lebih lanjut. Jika ajaran yang diberikan Buddha tidak membawa manfaat bagi semua makhluk, Buddha justru menyarankan untuk TIDAK MENERIMA AJARAN ITU. Penolakan ini sama sekali bukan bentuk ketidakpercayaan terhadap Buddha, ataupun menimbulkan dosa atau karma buruk, tapi inilah, disinilah letak keunikan dan universalitas Buddhisme, sebuah pemikiran logis bagi kemajuan batin.

Percaya pada ajaran Buddha bukan berarti kita harus meninggalkan agama yang kita anut. Agama Buddha sama sekali tidak mengejar jumlah pengikut! Sekali lagi, prinsip Ehipassiko adalah kuncinya.

=====================

Sungguh, Buddhisme telah mengubah diri gw. Gw bukan lagi seseorang yang bisa larut dalam kesedihan, karena gw sadar kehidupan selalu diliputi ketidakkekalan.

"Tidak ada yang kekal di dunia ini. Yang kekal hanyalah realisasi pembebasan (Nibbana)...."


MEMBANGKITKAN TEKAD:

"Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi saat ini di dalam diri saya, maupun di luar diri saya..
Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan:
tuk menanam taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan untuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.

Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih,
menjadi penuh welas asih,
menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi maupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat,
membantu sesama melepaskan kesedihan,
dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.

Kami berlindung kepadamu hingga tercapainya kebahagiaan sejati...."

Idealisme, Sebuah Jembatan atau Sebuah Batu..?

...sebuah cerita akhir TPB, sebuah kisah menemukan realitas seorang mahasiswa...

"IP gak penting-penting amatlah, yang penting kan softskillnya..."

Kutipan itu mungkin bisa mendeskripsikan bagaimana pola pikir sebagian mahasiswa sekarang, khususnya di ITB, tentang peranan sesuatu yang disebut 'softskill'. Mereka mulai mengarahkan diri mereka ke suatu cara berpikir terlalu praktis. Mereka terlalu dipaksakan pada satu kondisi dimana mereka merasakan 'comfort zone' pada sebuah dogma yang dilancarkan sejak mereka berada dalam kehidupan kampus.
Sejak Sidang Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru ITB, tentu kita selalu terdengar:
"Berdasarkan hasil survei, mahasiswa ITB unggul secara akademik tetapi belum unggul secara softskill...", atau:
"Saya harap kalian bisa aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan yang ada di kampus...."

Sama sekali tidak ada yang salah dengan ungkapan itu. Semangat yang diberikan adalah semangat yang sangat membangun: tentang semangat mengkolaborasikan academic skill dengan life skill. Semangat yang diberikan para petinggi kampus ini memang sepatutnya ditiru, TAPI: tidak untuk sepenuhnya diterima dogma seperti itu.

Manusia memiliki akal budi. Kita mampu berpikir secara rasional, memilah hal yang baik dan yang benar, serta menjauhkan hal yang salah dan tidak menguntungkan. Kita dapat mengkombinasikan berbagai intisari dari berbagai filosofi hidup yang diberikan pada kita. Kemudian, kita berpikir, mengolah intisari tersebut hingga tercapai sebuah pengambilan keputusan yang paling tepat menurut kita.

Akan tetapi, apa yang terjadi pada kenyataannya? Mahasiswa sekarang cenderung mengambil jalan praktis. Satu pihak, mereka begitu menonjol di academic skill. Indeks Prestasi mereka bahkan mencapai sebuah kesempurnaan. Di pihak lain, ada mereka-mereka yang memilih mencari idealisme dengan aktif tak karuan di berbagai aktivitas kemahasiswaan. Bagi pihak yang satu ini, IP jebol tak menjadi masalah asalkan mereka punya satu idealisme, yang konon katanya sangat dibutuhkan ketika terjun di masyarakat nantinya.

Ada satu kisah cerita tentang bagaimana seorang teman saya, sebut saja Budi namanya, merupakan seorang mahasiswa ITB di salah satu fakultas disana. Terdorong dengan semangat untuk mendapatkan nilai dan IP yang bagus, dia berusaha mati-matian untuk mendapatkannya. Tidak aktif di satupun organisasi kemahasiswaan menjadi pilihannya. Dia tidak peduli sama sekali dengan semangat yang diberikan pada saat sidang penerimaan mahasiswa baru, tidak sama sekali. Alhasil, dia mendapatkan IP yang sangat cemerlang, bahkan mencapai IP maksimal, dengan ketenaran akademik yang dimilikinya.

Kondisi ini jauh berbeda dengan cerita yang dibawa oleh Andi, sebut saja begitu, berada di salah satu fakultas di ITB juga. Pola pikir yang diyakini Andi berbeda seratusdelapanpuluh derajat dengan Budi. Sejak berada di TPB, Andi terpilih menjadi ketua angkatan fakultasnya, termasuk aktif di berbagai aktivitas kemahasiswaan. Pada saat rapat organisasi berlangsung, Andi berusaha bahkan mati-matian untuk mempertahankan pendapatnya tentang suatu hal. Dia tidak mau tinggal diam dan berusha angkat bicara dalam suatu topik. Perjalanan keorganisasiannya bahkan membawa dia pada posisi-posisi atas di organisasi yang diikutinya. Hasilnya? Andi cemerlang secara 'kemampuan berargumen', tetapi tidak dalam perjalanan prestasi akademiknya. IP yang mendekati 1.00 dipegangnya untuk dibawa sebagai pengubah nasib rakyat.

Kedua cerita itu menggambarkan bagaimana dua sisi mindset yang dimiliki mahasiswa ITB. Seorang mahasiswa menjalani perkuliahan di bangku kuliah tentu fungsinya adalah untuk belajar: akademik dan kehidupan bermasyarakat. Kerasnya pesan tersirat yang dibawa sewaktu pertama kali mereka menginjakkan kaki mereka di kampus, membawa mereka pada kondisi yang ekstrim. Seperti kasus Andi tadi, apakah benar untuk begitu fokus ke kehidupan 'softskill' sehingga tidak menjadi masalah baginya untuk mendapatkan prestasi akademik yang tergolong buruk? Apakah benar dengan begitu 'softskill oriented', dia bisa merubah negaranya menjadi lebih baik, ataupun mendapatkan jabatan yang baik di masa kerja mendatang?

Jawabannya adalah bahwa mereka cenderung menjadi seseorang yang idealis. Organisasi kerap digunakan sebagai tempat untuk mencari satu hal yang namanya idealisme. Contoh nyata adalah pada kaderisasi himpunan mahasiswa misalnya. Seseorang dengan tegas berusaha marah kepada juniornya, seakan derajatnya lebih tinggi. Dengan cara seperti ini, mereka berharap akan memperoleh sesuatu yang namanya idealisme ataupun softskill. Junior yang dididik mereka pun lambat laun tapi pasti dididik untuk menjadi seseorang yang idealis, yang penuh prinsip dalam kesehariannya.

Idealisme tentu saja kita butuhkan dalam menjalani kehidupan. Bagaimana mungkin kita bisa berperilaku dan bertindak di kehidupan sosial tanpa adanya prinsip idealisme? Tapi sayangnya, idealisme yang terbentuk kebanyakan sangat membabi buta, tanpa lagi diiringi niat tulus dan ungkapan hati. Saking kuatnya idealisme, mereka tak lagi memperdulikan sesamanya: karena mungkin tak sesuai dengan jiwa pemikirannya itu.

Apakah hal seperti ini yang diinginkan? Tentu bukan. Idealisme yang baik adalah idealisme yang sesuai dengan pemikiran bijak, dan tentu saja disertai dengan pengetahuan kognitif dan spiritualisme. Idealisme yang baik tidak dididik di kehidupan organisasi kemahasiswaan sepenuhnya. Idealisme yang baik adalah idealisme yang didatangkan dari hasil belajar, hasil yang diperoleh berdasarkan minat dan bakat, serta yang terpenting, didasarkan pada agama dan untaian kata hati.

Hal yang sama berlaku untuk softskill. Mendapatkan satu hal yang namanya softskill, bukan berarti kita harus mengikuti berbagai organisasi, bukan berarti juga kita menjadi haus kedudukan dengan organisasi yang kita ikuti. Hal-hal kecil, seperti membersihkan rumah, mencuci baju, atau bahkan membuat kue juga merupakan softskill. Ingat, softskill BUKAN kemampuan berorganisasi, tetapi kemampuan kita untuk hidup secara sosial dan membangun kehidupan yang harmonis dengan alam.

Sebagai penutup, saya hanya ingin menuturkan tentang pentingnya kombinasi dari 3 elemen yang mampu membuat kehidupan kita selaras dan seimbang: kognitif/academic skill, emosional skill, dan spiritual skill. Akademik tanpa diiringi softskill adalah nihil, tapi softskill tanpa diiringi semangat spiritualisme dan semangat untuk peduli terhadap sesama adalah kosong. Untuk itu, hendaknya kita tidak terlalu 'IP oriented', ataupun 'softskill oriented', tapi menyeimbangkan keduanya dengan mengkolaborasikan jiwa spiritual diantara keduanya.

----Inspiration:
"Disaat senang kita tersenyum..
Disaat sedih kita menangis..
Berubahnya senyum dan tangis adalah kesedihan..
Hidup wajar tanpa dualisme ini adalah kesenangan sejati..."

-kita tidak menyadari bahwa kita selalu hidup dalam kondisi dualisme: senang dan sedih. Senang selalu berubah menjadi sedih, dan sedih juga berubah menjadi senang yang akan berubah kembali menjadi sedih. Menyadari hal ini, hidup dalam kewajaran tanpa ekstrimis adalah kebahagiaan yang tak tertandingi...-