Idealisme, Sebuah Jembatan atau Sebuah Batu..?

...sebuah cerita akhir TPB, sebuah kisah menemukan realitas seorang mahasiswa...

"IP gak penting-penting amatlah, yang penting kan softskillnya..."

Kutipan itu mungkin bisa mendeskripsikan bagaimana pola pikir sebagian mahasiswa sekarang, khususnya di ITB, tentang peranan sesuatu yang disebut 'softskill'. Mereka mulai mengarahkan diri mereka ke suatu cara berpikir terlalu praktis. Mereka terlalu dipaksakan pada satu kondisi dimana mereka merasakan 'comfort zone' pada sebuah dogma yang dilancarkan sejak mereka berada dalam kehidupan kampus.
Sejak Sidang Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru ITB, tentu kita selalu terdengar:
"Berdasarkan hasil survei, mahasiswa ITB unggul secara akademik tetapi belum unggul secara softskill...", atau:
"Saya harap kalian bisa aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan yang ada di kampus...."

Sama sekali tidak ada yang salah dengan ungkapan itu. Semangat yang diberikan adalah semangat yang sangat membangun: tentang semangat mengkolaborasikan academic skill dengan life skill. Semangat yang diberikan para petinggi kampus ini memang sepatutnya ditiru, TAPI: tidak untuk sepenuhnya diterima dogma seperti itu.

Manusia memiliki akal budi. Kita mampu berpikir secara rasional, memilah hal yang baik dan yang benar, serta menjauhkan hal yang salah dan tidak menguntungkan. Kita dapat mengkombinasikan berbagai intisari dari berbagai filosofi hidup yang diberikan pada kita. Kemudian, kita berpikir, mengolah intisari tersebut hingga tercapai sebuah pengambilan keputusan yang paling tepat menurut kita.

Akan tetapi, apa yang terjadi pada kenyataannya? Mahasiswa sekarang cenderung mengambil jalan praktis. Satu pihak, mereka begitu menonjol di academic skill. Indeks Prestasi mereka bahkan mencapai sebuah kesempurnaan. Di pihak lain, ada mereka-mereka yang memilih mencari idealisme dengan aktif tak karuan di berbagai aktivitas kemahasiswaan. Bagi pihak yang satu ini, IP jebol tak menjadi masalah asalkan mereka punya satu idealisme, yang konon katanya sangat dibutuhkan ketika terjun di masyarakat nantinya.

Ada satu kisah cerita tentang bagaimana seorang teman saya, sebut saja Budi namanya, merupakan seorang mahasiswa ITB di salah satu fakultas disana. Terdorong dengan semangat untuk mendapatkan nilai dan IP yang bagus, dia berusaha mati-matian untuk mendapatkannya. Tidak aktif di satupun organisasi kemahasiswaan menjadi pilihannya. Dia tidak peduli sama sekali dengan semangat yang diberikan pada saat sidang penerimaan mahasiswa baru, tidak sama sekali. Alhasil, dia mendapatkan IP yang sangat cemerlang, bahkan mencapai IP maksimal, dengan ketenaran akademik yang dimilikinya.

Kondisi ini jauh berbeda dengan cerita yang dibawa oleh Andi, sebut saja begitu, berada di salah satu fakultas di ITB juga. Pola pikir yang diyakini Andi berbeda seratusdelapanpuluh derajat dengan Budi. Sejak berada di TPB, Andi terpilih menjadi ketua angkatan fakultasnya, termasuk aktif di berbagai aktivitas kemahasiswaan. Pada saat rapat organisasi berlangsung, Andi berusaha bahkan mati-matian untuk mempertahankan pendapatnya tentang suatu hal. Dia tidak mau tinggal diam dan berusha angkat bicara dalam suatu topik. Perjalanan keorganisasiannya bahkan membawa dia pada posisi-posisi atas di organisasi yang diikutinya. Hasilnya? Andi cemerlang secara 'kemampuan berargumen', tetapi tidak dalam perjalanan prestasi akademiknya. IP yang mendekati 1.00 dipegangnya untuk dibawa sebagai pengubah nasib rakyat.

Kedua cerita itu menggambarkan bagaimana dua sisi mindset yang dimiliki mahasiswa ITB. Seorang mahasiswa menjalani perkuliahan di bangku kuliah tentu fungsinya adalah untuk belajar: akademik dan kehidupan bermasyarakat. Kerasnya pesan tersirat yang dibawa sewaktu pertama kali mereka menginjakkan kaki mereka di kampus, membawa mereka pada kondisi yang ekstrim. Seperti kasus Andi tadi, apakah benar untuk begitu fokus ke kehidupan 'softskill' sehingga tidak menjadi masalah baginya untuk mendapatkan prestasi akademik yang tergolong buruk? Apakah benar dengan begitu 'softskill oriented', dia bisa merubah negaranya menjadi lebih baik, ataupun mendapatkan jabatan yang baik di masa kerja mendatang?

Jawabannya adalah bahwa mereka cenderung menjadi seseorang yang idealis. Organisasi kerap digunakan sebagai tempat untuk mencari satu hal yang namanya idealisme. Contoh nyata adalah pada kaderisasi himpunan mahasiswa misalnya. Seseorang dengan tegas berusaha marah kepada juniornya, seakan derajatnya lebih tinggi. Dengan cara seperti ini, mereka berharap akan memperoleh sesuatu yang namanya idealisme ataupun softskill. Junior yang dididik mereka pun lambat laun tapi pasti dididik untuk menjadi seseorang yang idealis, yang penuh prinsip dalam kesehariannya.

Idealisme tentu saja kita butuhkan dalam menjalani kehidupan. Bagaimana mungkin kita bisa berperilaku dan bertindak di kehidupan sosial tanpa adanya prinsip idealisme? Tapi sayangnya, idealisme yang terbentuk kebanyakan sangat membabi buta, tanpa lagi diiringi niat tulus dan ungkapan hati. Saking kuatnya idealisme, mereka tak lagi memperdulikan sesamanya: karena mungkin tak sesuai dengan jiwa pemikirannya itu.

Apakah hal seperti ini yang diinginkan? Tentu bukan. Idealisme yang baik adalah idealisme yang sesuai dengan pemikiran bijak, dan tentu saja disertai dengan pengetahuan kognitif dan spiritualisme. Idealisme yang baik tidak dididik di kehidupan organisasi kemahasiswaan sepenuhnya. Idealisme yang baik adalah idealisme yang didatangkan dari hasil belajar, hasil yang diperoleh berdasarkan minat dan bakat, serta yang terpenting, didasarkan pada agama dan untaian kata hati.

Hal yang sama berlaku untuk softskill. Mendapatkan satu hal yang namanya softskill, bukan berarti kita harus mengikuti berbagai organisasi, bukan berarti juga kita menjadi haus kedudukan dengan organisasi yang kita ikuti. Hal-hal kecil, seperti membersihkan rumah, mencuci baju, atau bahkan membuat kue juga merupakan softskill. Ingat, softskill BUKAN kemampuan berorganisasi, tetapi kemampuan kita untuk hidup secara sosial dan membangun kehidupan yang harmonis dengan alam.

Sebagai penutup, saya hanya ingin menuturkan tentang pentingnya kombinasi dari 3 elemen yang mampu membuat kehidupan kita selaras dan seimbang: kognitif/academic skill, emosional skill, dan spiritual skill. Akademik tanpa diiringi softskill adalah nihil, tapi softskill tanpa diiringi semangat spiritualisme dan semangat untuk peduli terhadap sesama adalah kosong. Untuk itu, hendaknya kita tidak terlalu 'IP oriented', ataupun 'softskill oriented', tapi menyeimbangkan keduanya dengan mengkolaborasikan jiwa spiritual diantara keduanya.

----Inspiration:
"Disaat senang kita tersenyum..
Disaat sedih kita menangis..
Berubahnya senyum dan tangis adalah kesedihan..
Hidup wajar tanpa dualisme ini adalah kesenangan sejati..."

-kita tidak menyadari bahwa kita selalu hidup dalam kondisi dualisme: senang dan sedih. Senang selalu berubah menjadi sedih, dan sedih juga berubah menjadi senang yang akan berubah kembali menjadi sedih. Menyadari hal ini, hidup dalam kewajaran tanpa ekstrimis adalah kebahagiaan yang tak tertandingi...-

0 comments: