Dalai Lama XIV Sosok Bahagia Penuh Kedamaian

















Jam rumah menunjukkan pukul 20.10 WIB ketika itu. Setelah pulang dari toko dan mandi, udah terbesit di pikiran gw buat duduk santai di ruang tamu, nonton tv sambil nyalain ebuddy n opera mini. Apalagi kalo gak buka fb, email, itb.ac.id, n bla bla bla. Tentunya sambil chatting.. haha..

Maka dengan santai dan pikiran tanpa beban duduklah gw di sofa ruang tamu. Gw mulai nyalain ebuddy n opera mini, tidak lupa nyalain tv. Ada yang berbeda kali ini, gak tahu ada karma baik apa yang gw lakuin. Gw tengah menyaksikan acara di metro TV: Face to Face. Spesialnya, Face to Face kali ini menampilkan seorang sosok luar biasa menurut gw. Tiada lain adalah Yang Mulia Dalai Lama XIV, yang sedang berada di India guna menghindari invasi China di negara pimpinan Beliau sendiri, Tibet.

Begitu tahu ada hal yang menarik dan luar biasa menurut gw, lantas gw panggil tuh di david_chentanaman yang tengah online di YM.
"Chen, buka metro TV..." Gw panggil 2 kali, kok ga ada jawaban. Ngerasa kalau acara ini penting banget buat dia, gw panggil lagi deh, kali ini dengan cara nge-buzz. Tapi, gak berbeda jauh, tetap ga ada jawaban.

Di tengah mencoba menginformasikan si chen tentang acara ini, perhatian gw seakan dipecahkan dalam dua kepentingan. Gw pengen banget nonton wawancara dengan Dalai Lama untuk pertama kalinya. Di sisi lain, gw juga menyadari kalau chen bakal sangat membutuhkan acara-acara seperti ini. Di tengah kalut, akhirnya.... "Bentar, gw nyalain tv," balas si chen.

Ya udah, ga ada lagi yang bikin gw risih. Lantas, gw bisa nonton acara itu dengan santai dan fokus tentunya.

Di tayangan tersebut, diceritakanlah ada sebuah wilayah di India yang bernama Dharamsala (kalau ga salah ingat). Pemerintah India memberikan akses kepada masyarakat Tibet yang sedang diinvasi China untuk membangun daerahnya sendiri, di Dharamsala itu. Masyarakat Tibet yang mengungsi tinggal dan membangun kehidupan disana. Segala bentuk kebudayaan dan tradisi, termasuk kehidupan spiritual tumbuh di daerah tersebut. Ciri kehidupan Buddhisme terlihat erat disana, tentunya dengan bentuk tradisi Tibetannya.

Di sanalah seorang tokoh dunia, penginspirasi tokoh-tokoh besar, yang sangat dihormati seluruh masyarakat dunia tinggal. Tidak lain adalah YM Dalai Lama XIV. Beliaulah seorang sosok yang sangat menghargai perbedaan, seorang tokoh yang mencintai kedamaian. Sejak dilancarkannya invasi Cina ke Tibet, Beliau memilih jalan kedamaian untuk penyelesainnya, perang bukan jawaban. Beliau menjadi seorang pengungsi di wilayah India, yaitu Dharamsala.

Bertempat di istana sederhana, Beliau hidup dengan sosoknya yang penuh canda dan tawa. "Kehangatan diri saya disalurkan dalam bentuk senyum dan tawa," ujarnya pada tayangan itu. Beliau juga mengaku bahwa Beliau hidup bahagia. Hidup dalam kedamaian merupakan sebuah kebahagiaan baginya.

Yang paling gw salut dari Beliau, walaupun Beliau merupakan seorang Buddhis yang sarat dengan nilai-nilai Buddhisme, ada satu pernyataan beliau yang luar biasa:
"Kita semua sama, kitalah milyaran manusia yang hidup di bumi ini. Perbedaan ras, agama, dan etnis tidak lantas menjadikan kita berbeda..."

Singkatnya, Beliau adalah seseorang yang sangat menjunjung tinggi perbedaan. Beliau tidak pernah mendogma bahwa agamanya yang terbaik, dan agama lain salah. Beliau bahkan pernah bertemu dengan pemimpin dunia agama lain, dengan tetap menjunjung tinggi perbedaan keyakinan diantara mereka.

Satu hal lagi. Beliau memberikan satu pesan untuk masyarakat Indonesia. Menurutnya, walaupun Indonesia didominasi pemeluk Muslim, tetapi Indonesia begitu variatif dengan adanya pemeluk agama lain. Untuk itu, menurut beliau, Indonesia punya kesempatan untuk menghargai sesama dan hidup berdampingan. Hidup damai adalah kuncinya.

Tayangan yang berdurasi sekitar 1 jam ini begitu menginspirasi buat gw. Gw menjadi lebih memahami perbedaan, dan bagaimana kita selayaknya bersikap dengan pemeluk agama lain. Itu penting, mengingat banyak kenalan-kenalan gw yang berbeda agama dengan gw. Justru Dalai Lama XIV kembali mengingatkan gw dengan nilai Buddhisme murni, untuk mencintai kedamaian dan menghargai perbedaan.

Hai sahabat-sahabatku, perbedaan tidak membuat kita berbeda. Kita daun dari satu pohon. Kita ombak dari satu laut. Kita bintang dari satu langit.

Mari berpuas hati dan berdamai dengan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.... Love You Forever, all creatures around us...

~11 pm in living room....

Buddhism for All

Albert Einstein: "Agama masa depan adalah agama kosmik, melampaui Tuhan sebagai pribadi serta menghindari dogma dan teologi. Mencakup baik alamiah maupun spiritual, agama tersebut seharusnya didasarkan pada rasa keagamaan yang timbul dari pengalaman akan segala sesuatu yang alamiah dan spiritual, berupa kesatuan yang penuh arti. Ajaran Buddha menjawab gambaran ini. Jika ada agama yang akan memenuhi kebutuhan ilmiah modern, itu adalah ajaran Buddha..."

Terbawa dogma dan kepercayaan pribadi, masih sedikit pihak yang percaya bahwa Buddhisme bukan milik golongan atau agama tertentu. Buddhisme bukanlah milik pemeluk agama Buddha, ataupun milik identitas tertentu. Tetapi: Buddhisme adalah sebuah ajaran bagi semua makhluk, bahkan tidak hanya manusia, tetapi sekali lagi, untuk semua makhluk.

Pada zaman dulu ketika Buddha lahir di dunia, beliau membawa sebuah misi besar bagi dunia yaitu menyelamatkan semua makhluk. Berkat cinta kasih dan kebijaksanaan yang dimilikinya, selama 35 tahun beliau berjuang bagi semuanya, tidak hanya untuk diri sendiri. Berkat perjuangannya itu, Buddha sama sekali tidak memberikan dogma ataupun perintah sedikitpun bagi pihak yang percaya padanya. Malahan, beliau memberikan satu konsep istimewa: konsep Ehipassiko (datang dan lihat). Artinya, Buddha sama sekali tidak menyatakan ajarannya paling benar! Buddha sama sekali tidak mendogma pengikutnya! Buddha tidak mengklaim ajarannya sebagai ajaran eksklusif, melainkan milik semua makhluk!

Prinsip Ehipassiko menyatakan bahwa ajaran yang dibabarkan Buddha BUKAN UNTUK DITERIMA MENTAH-MENTAH, melainkan untuk diselidiki lebih lanjut. Jika ajaran yang diberikan Buddha tidak membawa manfaat bagi semua makhluk, Buddha justru menyarankan untuk TIDAK MENERIMA AJARAN ITU. Penolakan ini sama sekali bukan bentuk ketidakpercayaan terhadap Buddha, ataupun menimbulkan dosa atau karma buruk, tapi inilah, disinilah letak keunikan dan universalitas Buddhisme, sebuah pemikiran logis bagi kemajuan batin.

Percaya pada ajaran Buddha bukan berarti kita harus meninggalkan agama yang kita anut. Agama Buddha sama sekali tidak mengejar jumlah pengikut! Sekali lagi, prinsip Ehipassiko adalah kuncinya.

=====================

Sungguh, Buddhisme telah mengubah diri gw. Gw bukan lagi seseorang yang bisa larut dalam kesedihan, karena gw sadar kehidupan selalu diliputi ketidakkekalan.

"Tidak ada yang kekal di dunia ini. Yang kekal hanyalah realisasi pembebasan (Nibbana)...."


MEMBANGKITKAN TEKAD:

"Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi saat ini di dalam diri saya, maupun di luar diri saya..
Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan:
tuk menanam taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan untuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.

Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih,
menjadi penuh welas asih,
menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi maupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat,
membantu sesama melepaskan kesedihan,
dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.

Kami berlindung kepadamu hingga tercapainya kebahagiaan sejati...."

Idealisme, Sebuah Jembatan atau Sebuah Batu..?

...sebuah cerita akhir TPB, sebuah kisah menemukan realitas seorang mahasiswa...

"IP gak penting-penting amatlah, yang penting kan softskillnya..."

Kutipan itu mungkin bisa mendeskripsikan bagaimana pola pikir sebagian mahasiswa sekarang, khususnya di ITB, tentang peranan sesuatu yang disebut 'softskill'. Mereka mulai mengarahkan diri mereka ke suatu cara berpikir terlalu praktis. Mereka terlalu dipaksakan pada satu kondisi dimana mereka merasakan 'comfort zone' pada sebuah dogma yang dilancarkan sejak mereka berada dalam kehidupan kampus.
Sejak Sidang Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru ITB, tentu kita selalu terdengar:
"Berdasarkan hasil survei, mahasiswa ITB unggul secara akademik tetapi belum unggul secara softskill...", atau:
"Saya harap kalian bisa aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan yang ada di kampus...."

Sama sekali tidak ada yang salah dengan ungkapan itu. Semangat yang diberikan adalah semangat yang sangat membangun: tentang semangat mengkolaborasikan academic skill dengan life skill. Semangat yang diberikan para petinggi kampus ini memang sepatutnya ditiru, TAPI: tidak untuk sepenuhnya diterima dogma seperti itu.

Manusia memiliki akal budi. Kita mampu berpikir secara rasional, memilah hal yang baik dan yang benar, serta menjauhkan hal yang salah dan tidak menguntungkan. Kita dapat mengkombinasikan berbagai intisari dari berbagai filosofi hidup yang diberikan pada kita. Kemudian, kita berpikir, mengolah intisari tersebut hingga tercapai sebuah pengambilan keputusan yang paling tepat menurut kita.

Akan tetapi, apa yang terjadi pada kenyataannya? Mahasiswa sekarang cenderung mengambil jalan praktis. Satu pihak, mereka begitu menonjol di academic skill. Indeks Prestasi mereka bahkan mencapai sebuah kesempurnaan. Di pihak lain, ada mereka-mereka yang memilih mencari idealisme dengan aktif tak karuan di berbagai aktivitas kemahasiswaan. Bagi pihak yang satu ini, IP jebol tak menjadi masalah asalkan mereka punya satu idealisme, yang konon katanya sangat dibutuhkan ketika terjun di masyarakat nantinya.

Ada satu kisah cerita tentang bagaimana seorang teman saya, sebut saja Budi namanya, merupakan seorang mahasiswa ITB di salah satu fakultas disana. Terdorong dengan semangat untuk mendapatkan nilai dan IP yang bagus, dia berusaha mati-matian untuk mendapatkannya. Tidak aktif di satupun organisasi kemahasiswaan menjadi pilihannya. Dia tidak peduli sama sekali dengan semangat yang diberikan pada saat sidang penerimaan mahasiswa baru, tidak sama sekali. Alhasil, dia mendapatkan IP yang sangat cemerlang, bahkan mencapai IP maksimal, dengan ketenaran akademik yang dimilikinya.

Kondisi ini jauh berbeda dengan cerita yang dibawa oleh Andi, sebut saja begitu, berada di salah satu fakultas di ITB juga. Pola pikir yang diyakini Andi berbeda seratusdelapanpuluh derajat dengan Budi. Sejak berada di TPB, Andi terpilih menjadi ketua angkatan fakultasnya, termasuk aktif di berbagai aktivitas kemahasiswaan. Pada saat rapat organisasi berlangsung, Andi berusaha bahkan mati-matian untuk mempertahankan pendapatnya tentang suatu hal. Dia tidak mau tinggal diam dan berusha angkat bicara dalam suatu topik. Perjalanan keorganisasiannya bahkan membawa dia pada posisi-posisi atas di organisasi yang diikutinya. Hasilnya? Andi cemerlang secara 'kemampuan berargumen', tetapi tidak dalam perjalanan prestasi akademiknya. IP yang mendekati 1.00 dipegangnya untuk dibawa sebagai pengubah nasib rakyat.

Kedua cerita itu menggambarkan bagaimana dua sisi mindset yang dimiliki mahasiswa ITB. Seorang mahasiswa menjalani perkuliahan di bangku kuliah tentu fungsinya adalah untuk belajar: akademik dan kehidupan bermasyarakat. Kerasnya pesan tersirat yang dibawa sewaktu pertama kali mereka menginjakkan kaki mereka di kampus, membawa mereka pada kondisi yang ekstrim. Seperti kasus Andi tadi, apakah benar untuk begitu fokus ke kehidupan 'softskill' sehingga tidak menjadi masalah baginya untuk mendapatkan prestasi akademik yang tergolong buruk? Apakah benar dengan begitu 'softskill oriented', dia bisa merubah negaranya menjadi lebih baik, ataupun mendapatkan jabatan yang baik di masa kerja mendatang?

Jawabannya adalah bahwa mereka cenderung menjadi seseorang yang idealis. Organisasi kerap digunakan sebagai tempat untuk mencari satu hal yang namanya idealisme. Contoh nyata adalah pada kaderisasi himpunan mahasiswa misalnya. Seseorang dengan tegas berusaha marah kepada juniornya, seakan derajatnya lebih tinggi. Dengan cara seperti ini, mereka berharap akan memperoleh sesuatu yang namanya idealisme ataupun softskill. Junior yang dididik mereka pun lambat laun tapi pasti dididik untuk menjadi seseorang yang idealis, yang penuh prinsip dalam kesehariannya.

Idealisme tentu saja kita butuhkan dalam menjalani kehidupan. Bagaimana mungkin kita bisa berperilaku dan bertindak di kehidupan sosial tanpa adanya prinsip idealisme? Tapi sayangnya, idealisme yang terbentuk kebanyakan sangat membabi buta, tanpa lagi diiringi niat tulus dan ungkapan hati. Saking kuatnya idealisme, mereka tak lagi memperdulikan sesamanya: karena mungkin tak sesuai dengan jiwa pemikirannya itu.

Apakah hal seperti ini yang diinginkan? Tentu bukan. Idealisme yang baik adalah idealisme yang sesuai dengan pemikiran bijak, dan tentu saja disertai dengan pengetahuan kognitif dan spiritualisme. Idealisme yang baik tidak dididik di kehidupan organisasi kemahasiswaan sepenuhnya. Idealisme yang baik adalah idealisme yang didatangkan dari hasil belajar, hasil yang diperoleh berdasarkan minat dan bakat, serta yang terpenting, didasarkan pada agama dan untaian kata hati.

Hal yang sama berlaku untuk softskill. Mendapatkan satu hal yang namanya softskill, bukan berarti kita harus mengikuti berbagai organisasi, bukan berarti juga kita menjadi haus kedudukan dengan organisasi yang kita ikuti. Hal-hal kecil, seperti membersihkan rumah, mencuci baju, atau bahkan membuat kue juga merupakan softskill. Ingat, softskill BUKAN kemampuan berorganisasi, tetapi kemampuan kita untuk hidup secara sosial dan membangun kehidupan yang harmonis dengan alam.

Sebagai penutup, saya hanya ingin menuturkan tentang pentingnya kombinasi dari 3 elemen yang mampu membuat kehidupan kita selaras dan seimbang: kognitif/academic skill, emosional skill, dan spiritual skill. Akademik tanpa diiringi softskill adalah nihil, tapi softskill tanpa diiringi semangat spiritualisme dan semangat untuk peduli terhadap sesama adalah kosong. Untuk itu, hendaknya kita tidak terlalu 'IP oriented', ataupun 'softskill oriented', tapi menyeimbangkan keduanya dengan mengkolaborasikan jiwa spiritual diantara keduanya.

----Inspiration:
"Disaat senang kita tersenyum..
Disaat sedih kita menangis..
Berubahnya senyum dan tangis adalah kesedihan..
Hidup wajar tanpa dualisme ini adalah kesenangan sejati..."

-kita tidak menyadari bahwa kita selalu hidup dalam kondisi dualisme: senang dan sedih. Senang selalu berubah menjadi sedih, dan sedih juga berubah menjadi senang yang akan berubah kembali menjadi sedih. Menyadari hal ini, hidup dalam kewajaran tanpa ekstrimis adalah kebahagiaan yang tak tertandingi...-

Lain Kampung Lain Perantauan

Kurang sedikit dari 5 bulan yang lalu, gw udah meninggalkan kota yang namanya kota MEDAN. Tapi.. tak terasa, kurang sedikit dari 2 minggu yang lalu juga, gw udah kembali ke kota yang tadi, kota kelahiran gw^^

Setelah ngerasain seluk beluk dengan sejuta kesan cerita dan 'film' yang mewarnai kehidupan di kota Bandung selama semester 2 ini, gw telah mendapatkan sebuah gambaran... sebuah pemikiran tentang perbedaan: 'lain kampung lain perantauan'. Yes, it's solved!!!!

Tentu saja, bukan karena kota Medan terletak di pulau Sumatera dan kota Bandung di Pulau Jawa, lantas gw bilang itulah yang disebut 'lain kampung lain perantauan'! adalah sebuah hal yang lebih dari itu, guys! lebih dari perbedaan fisik, perbedaan situs, ataupun perbedaan suku dan etnis, tetapi yang lebih menarik adalah tentang perbedaan BUDAYA dan POLA PIKIR. Trus, gw pikir, kenapa ga gw coba ungkap disini, the way Medanese and Bandungese (bener ga??^^).........

YANG PERTAMA: Bandung jauh lebih sejuk dari kota kelahiran gw.... Ini adalah kesan pertama mengunjungi kota Bandung sejak lebih kurang setahun yang lalu. Bandung yang konon katanya terletak diatas perbukitan sejak zaman dulu, memiliki atmosfer yang lebih sejuk, walaupun ga sejuk2 amat sih, masih sejukan Brastagi:-) Jadi, begitu gw pulang ke Medan sekitar 2 minggu lalu, perbedaan ini lantas terasa begitu kental di seantero tubuh gw. Perasaan 'cacing menggeliat' pun tak dapat lagi dibendung. 'Tubuh lem' juga tak dapat lagi dianulir.... Owhhh, baru gw sadar: inilah pesona kota Bandung yang nyaman itu [secara atmosfer udara]

YANG KEDUA: Masyarakat Bandung lebih modis... Banyak artis-artis nasional yang berasal dari kota kembang ini, banyak bangetttttt [sampe gw lupa], tau ga kenapa? Setelah gw riset selama lebih kurang 1 bulan, gw menemukan bahwa ada kecenderungan masyarakat Bandung untuk berpakaian secara lebih modis dan rapi, jauh berbeda dengan kota Medan yang lebih gede dari kota Bandung. Bahkan, di angkot pun kita bisa merasakan bagaimana ibu-ibu yang sudah berumur pun, tetap berusaha untuk tampil secara menyenangkan, dengan dandanan yang sedap dipandang. Kalau sudah begini, adalah wajar kalau kota Bandung aktif menelurkan ratusan artis-artis [laku] untuk tampil di layar TV, PLUS wajar juga kalau kota Bandung punya banyak fashion outlet (nyambung ga sih??)^^

YANG KETIGA: Cara berinteraksi masyarakat Bandung lebih sopan... Ya jelaslah, satu dominasi orang Sunda, satu dominasi orang Batak. Bagai langit dan bumi kali ya, haha.. Gak cuma itu kok, di Medan, masyarakat Chinese yang ada disini lebih senang bahkan fasih berbahasa Hokkien, bahkan masyarakat setempat juga ada yang memahami lontaran bahasa tersebut. Lain halnya di kota Bandung, asalkan penduduk Bandung, so pasti, mereka bisa berbahasa Sunda...

YANG KEEMPAT: Makanan di hometown jauh lebih nikmat bahkan dari kota yang terkenal aneka kulinernya... Meskipun kota Bandung diisi dengan berbagai jajanan dan makanan kuliner yang konon katanya begitu memanjakan lidah, gw tetap merasakan makanan di kota Medan STILL THE BEST. Gak tahu mungkin karena udah puluhan tahun lidah gw ditetesi dengan citarasa makanan Medan, gw jauh lebih menikmati makanan Medan yang begitu memukau, haha. Apa aja ada kok: sate padang yang lebih mantap (dekat kota Padang kali ya), kwetiaw goreng yang jauh lebih 'goreng', martabak india, dan tentunya makanan rumahan.... Kalau Bandung punya browniesnya, Medan punya bolu gulung plus bika ambonnya... haha.. [Maaf unsur subjektivitasnya tinggi]

Selain keempat poin diatas, tentu masih banyak lagi cerita perbedaan diantara kedua kota diatas. Selama menjalani berbulan-bulan kehidupan di kota kembang, dan setelah menimbang-nimbang serta membedakan keduanya, tentu banyak ilmu baru yang bisa gw peroleh. Gw banyak belajar tentang ilmu budaya, gw bisa merangkai perbedaan itu sebagai satu kesatuan kolaborasi, menjadikan perbedaan itu sebagai puzzle yang saling terpasang membentuk sebuah gambar utuh yang mempesona.
Fuuhhhhhh... mumpung lagi liburan, ayo jelajahi kota Medan, wkwk.....^^

Inspiration 4 u:
"Coretan di sehelai kertas memberikan satu makna..
.. tapi makna itu akan semakin berarti apabila sehelai kertas digabungkan dengan helai lain membentuk kumpulan helai....."

-kadang kita tak menyadari tentang seberapa pentingnya satu hal, padahal kalau kita hubungkan, hal itu merupakan sebuah ilmu, sebuah buku kehidupan...-

....at my home....

A Strange Feeling


Besok gw pulang balik ke Medan, ditengah berjalannya PABA yg sisa durasi waktunya tak diketahui:(


Bukannya gak mau ikut sih, gw malah ngerasa dapat materi2 umum yg banyak banget manfaatnya, kaya materi dari Prof.Andreanus, Bu Ilma, n pak Dani. Tapi keadaan memaksaku untuk pulang: karena udah keburu beli tiket pesawat sejak 15 Maret 2010. SENANG???

Iya, karena gw terbebas dari berbagai tugas yg mungkin tak perlu lagi gw jalanin. Tapi meskipun begitu, gw ngerasa bersalah, bersalah karena gw ninggalin PABA dan angkatan SF 2009 ku. Walaupun masih ada jarak antara gw dan angkatan sendiri, tak bisa dipungkiri telah tercipta sebuah lapisan kebersamaan. Didukung oleh semangat perasa yg ada di dalam diri gw, gw ngerasa bknnya membantu angkatan menyelesaikan tugas, gw malah kabur dengan pulang cepat ke kota asal.

Tadi siang pas kumpul angkatan buat ngomongin PABA besok, sebuah perasaan datang menghadangku. Sebuah kondisi aneh tiba-tiba menerpa diriku, ketika gw tengah berjalan menuju gedung SR. Ketika itu, gw ngerasa sebuah perasaan yg agak aneh, bahkan tak lazim untuk seseorang yg bakal pulang kampung menemui keluarganya: Gw berat meninggalkan kota bandung............... .................

Ya, gak tahu kenapa, semester 2 ini memberi berbagai cerita seru dibaliknya. Gw banyak merasakan hal2 yang menarik dan merasakan pengalaman baru didalamnya, terutama dengan my lovely Bandung's family: David, PW, Yun, Linda, Gaby, dlll..

Gw kangen dengan berbagai cerita yg kami lewati selama semester ini: cerita di dalam kelas GKU barat, cerita dengan nilai UTS, cerita mengenai dosen, cerita gosip, serta berbagai ekspresi muka dan raut muka keluargaku. Belum lagi saat cerita2 terakhir kita mengenai PABA, tempat dimana kita secara intensif bertemu dan sama2 merasakan situasi tegang dan "dibantai"^^

Puncak gw ngerasain hal ini sewaktu kita pamitan mau beli oleh2 buat pulang besok bersama PW n gaby. Gak tahu kenapa, berat.. apalagi dengan cerita2 seru yg menutup pertemuan kami diwaktu itu: "Jangan lupa beli oleh2nya ya..", "Hati2 di jalan", "Semangat PABAnya", dlll...

Gw terbayang dengan jarak kt selama 2 bulan, yg tanpa diisi cerita tawa dan canda selama ini.. N satu lagi yg membuat gw ngerasa berat: kos gw, makanan bandung, orang2 kos, bibi cuci, situasi kampus, dan temen2 anak SITH sekelas.

Gw bakal ninggalin berbagai hal yg biasanya gw temui setiap hari, walaupun cuma 2 bulan.. Gw juga gak akan ketemu anak2 SITH kelas 01 yang menurut gw sangat low profile.

OK deh, mata gw sedikit berkaca2...

Siap2 buat balik kota kelahiran gw selama ini, ketemu dgn orang2 terdekat gw selama ini: mama, papa, adik, kakek, tante, paman, sepupu, n semuanya...

Belakangan ini gw sadar: kehidupan gw di 2 kota berbeda sebenarnya adalah SATU. I need YOU ALL, my lovely family........................