Buddhism for All

Albert Einstein: "Agama masa depan adalah agama kosmik, melampaui Tuhan sebagai pribadi serta menghindari dogma dan teologi. Mencakup baik alamiah maupun spiritual, agama tersebut seharusnya didasarkan pada rasa keagamaan yang timbul dari pengalaman akan segala sesuatu yang alamiah dan spiritual, berupa kesatuan yang penuh arti. Ajaran Buddha menjawab gambaran ini. Jika ada agama yang akan memenuhi kebutuhan ilmiah modern, itu adalah ajaran Buddha..."

Terbawa dogma dan kepercayaan pribadi, masih sedikit pihak yang percaya bahwa Buddhisme bukan milik golongan atau agama tertentu. Buddhisme bukanlah milik pemeluk agama Buddha, ataupun milik identitas tertentu. Tetapi: Buddhisme adalah sebuah ajaran bagi semua makhluk, bahkan tidak hanya manusia, tetapi sekali lagi, untuk semua makhluk.

Pada zaman dulu ketika Buddha lahir di dunia, beliau membawa sebuah misi besar bagi dunia yaitu menyelamatkan semua makhluk. Berkat cinta kasih dan kebijaksanaan yang dimilikinya, selama 35 tahun beliau berjuang bagi semuanya, tidak hanya untuk diri sendiri. Berkat perjuangannya itu, Buddha sama sekali tidak memberikan dogma ataupun perintah sedikitpun bagi pihak yang percaya padanya. Malahan, beliau memberikan satu konsep istimewa: konsep Ehipassiko (datang dan lihat). Artinya, Buddha sama sekali tidak menyatakan ajarannya paling benar! Buddha sama sekali tidak mendogma pengikutnya! Buddha tidak mengklaim ajarannya sebagai ajaran eksklusif, melainkan milik semua makhluk!

Prinsip Ehipassiko menyatakan bahwa ajaran yang dibabarkan Buddha BUKAN UNTUK DITERIMA MENTAH-MENTAH, melainkan untuk diselidiki lebih lanjut. Jika ajaran yang diberikan Buddha tidak membawa manfaat bagi semua makhluk, Buddha justru menyarankan untuk TIDAK MENERIMA AJARAN ITU. Penolakan ini sama sekali bukan bentuk ketidakpercayaan terhadap Buddha, ataupun menimbulkan dosa atau karma buruk, tapi inilah, disinilah letak keunikan dan universalitas Buddhisme, sebuah pemikiran logis bagi kemajuan batin.

Percaya pada ajaran Buddha bukan berarti kita harus meninggalkan agama yang kita anut. Agama Buddha sama sekali tidak mengejar jumlah pengikut! Sekali lagi, prinsip Ehipassiko adalah kuncinya.

=====================

Sungguh, Buddhisme telah mengubah diri gw. Gw bukan lagi seseorang yang bisa larut dalam kesedihan, karena gw sadar kehidupan selalu diliputi ketidakkekalan.

"Tidak ada yang kekal di dunia ini. Yang kekal hanyalah realisasi pembebasan (Nibbana)...."


MEMBANGKITKAN TEKAD:

"Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi saat ini di dalam diri saya, maupun di luar diri saya..
Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan:
tuk menanam taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan untuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.

Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih,
menjadi penuh welas asih,
menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi maupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat,
membantu sesama melepaskan kesedihan,
dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.

Kami berlindung kepadamu hingga tercapainya kebahagiaan sejati...."

0 comments: